DOA KU HADDAD ALWI

Mengenai Saya

Foto saya
Olahraga,Fitnest,Membaca,Treveling, dll

Translate

Rumah Web

Watch

Followers

Market Health

Amazon Kindle

Selasa, 06 April 2010


Hari ke Dua ( 2 ) Jum'at di Madinah

Mejelang Subuh waktu setempat kita berangkat ke mesjid Nabawi, yang lokasinya tidak jauh dari Hotel tempat kami menginap, untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah, setelah selesai sembahyang subuh dan berdoa kami pulang untuk sarapan pagi, Mesjid Nabawi adalah mesjid terbesar di Madinah selain mempunyai keistimewaan dangan beribadah di dalamnya juga terdapat makam Rasulullah dan dua sahabatnya Abu Bakar RA dan Umar RA.

Acara selanjut adalah mengujungi makam Rasulullah yang lokasinya ada di dalam Mesdjid Nabawi serta dua sahabat nabi,Yaitu Abu Bakar.RA dan Umar.RA, yang makamnya bersebelahan dangan Makam Nabi Muhammad Saw, di situ saya berdoa kepada Allah Swt agar Arwah Nabi dan dua sahabatnya diberikan tempat yang paling mulia di sisi-Nya, serta mengunjungi Raudah suatu tempat di dalam mesjid Nabawi yang dibatasi dengan tiang-tiang putih.

Tempat tersebut dianggap sebagai suatu tempat yang mulia Pernah diriwayatkan oleh Nabi Muhammad Saw , sebagai kebun diantara kebun- kebun disorga. sehingga para jamaah banyak yang berebut untuk sembahyang sunat disitu, serta berdoa untuk memohon kepada Allah swt agar keinginan mereka bisa terkabulkan, tempatnya tidak jauh dari makam Nabi Muhammad Saw.

Kemudian dengan beberapa rombongan kami mengelilingi mesjid Nabawi yang sangat megah tersebut, spetekuler dengan keistmewaan yang mana Kubahnya bisa di geser secara otomatis, sehingga cahaya matahari bisa masuk kedalam Mesdjid, juga tak kalah hebatnya adalah, ada payung raksaksa di halaman mesjid yang bisa dikembangkan pada saat dibutuhkan, sekitar jam 10.00 Wst kami pulang ke Hotel untuk ber istrirahat karena jam 12.30 wst akan sholat jum'at berjamaah.

Jam 12.00 kami keluar dari Hotel Dallah Taibah menuju Mesjid Nabawi untuk sembayang Jum'at berjamaah, bersama-sama dan saya berdoa kepada Allah Swt memohon ampunan atas segala Dosa-Dosa yang telah ke perbuat, baik dosa besar, dosa kecil,disengaja atau tidak disengaja dan dosa lahir,dan bathin.memohan untuk dimudahkah atas segala urusan dan mengucapkan puji syukur bahwa saya sudah bisa datang ke Madinah atas kehendak-Nya juga...

Selesai Sholat Jum'at kami pulang untuk sarapan siang...dan istrirahat serta dilanjutkan sembayang Asar Magrib serta Isa..dangan berjamaah. Jamaah menghabiskan waktunya untuk bezikir dan memperbanyak ibadah sunnah di Mesjid Nabawi, Mesjid yang terbesar dan termegah di Madinah itu, dan akan dilajutkan Perjalan keesokan harinya.

Laporan Perjalan Umroh (Wisata Religi) Hari 1 (kesatu)


Laporan Perjalan Umroh

Hari I ( Pertama) kamis

Pada Tanggal 4 Maret 2010 setelah semua persiapan selesai jam 11 Siang dengan diantar Istri anak dan Cucu, saya berangkat ke Bendara Sukarno Hatta, karena waktu kumpul pada 14.00 sudah harus tiba, sesampai di Bendara belum banyak tiba.

Setelah semua tiba kira jam 14.00 siang kita masuk keruang tunggu di pintu masuk F 6 dan menaiki pesawat By Saudi Arabia Airline, dipesawat aku hanya bisa beserah diri karena semua manusia sudah tidak berdaya lagi kecuali dengan pertolong Allah swt.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam pesawat mendarat di Daman utk mengisi bahan Avtur, dan lebih kurang 45 menit baru berangkat lagi ke Madinah Abdul Aziz pukul 8.00 waktu setempat, setelah meyelesai urus Imigrasi kami menuju Hotel Taibah tempatnya tidak jauh dari Mesjid Nabawi yang telah disediakan Travel perjalan Nipindo Antar Wisata yang saya pilih yang direncanakan membawa Komunitas Wisata Religi untuk tahun ini belum ada yang ikut.

Setelah pembagian kunci kamar, saya bersama dengan teman sekamar yaitu Faozun, memasuki kamar yang diberikan, kebetulan berpergian sedirian, begitu juga saya, karena istri sudah berangkat tahun lalu. Untuk selanjutnya tidur untuk beristrirahat.

Rabu, 03 Februari 2010

Umroh Pertama Rasulullah



Sungguh itu bukan pemandangan lazim. Hari itu, kaum Quraisy berbondong bondong meninggalkan Mekah. Tua, muda dan anak anak, laki-laki, mau perempuan, tanpa kecuali, Orang-orang itu mendaki bukit-bukit di sekitar Mekah. Perhatian mereka tertuju pada kempulan debu yang membubung dari arah utara.

Ya, dari Utara- dari arah Madinah- sekitar 2.000 orang tengah mendekati Mekah. Mereka adalah rombongan Rasulullah. Setahun sebelumnya, dalam jumlah yang lebih kecil, mereka telah mencoba memasuki Mekah untuk ziarah. Perjalanan itu tertahan di Hudaibiya-tempat kedua pihak menandatangani perjanjian.


Dalam perjanjian itu, Muhammad dan rombongan baru boleh datang ke Mekah setahun kemudian.Jika saat itu tiba, kaum Quraisy akan menyingkir sementara dari Mekah.

Setahun telah berlalu. Pada bulan suci, Muhammad benar benar datang bersama umat Islam lainnya. Meraka semua larut dalam seruan "labbaikka, labbaika" yang tak putus-putusnya membahana. Sudah sekitar tujuh tahun mereka meninggalkan kota tempat Ka'bah itu berada. kini' rumah Allah" tersebut telah berada di hadapannya.


Muhammad menyelempangkan jubah ke pundak kirinya.Dibiarkan pundak lengan kanannya terbuka. Saat itu pula, ia berdoa: "Ya Allah, berikan rachmat kepada orang yang hari ini telah memperlihatkan kemampuan dirinya"


Ia melangkah menyentuh Hajar Aswad di sudut Ka'bah, lalu berlari kecil hingga Rukun Yamani atau sudut selatan yang merupakan sudut ketiga, dan kemudian berjalan kembali untuk menyentuh Hajar Aswad. Hal demikian dilakukannya tiga kali. Selebihnya Moham-mad mengelilingi Ka'bah dengan arah yang berlawanan dengan putaran jarum jam dengan berjalan kaki. Ribuan umat Islam mengikuti setiap gerakan Muhammad. Sebuah pemandangan yang mempesona orang orang Quraisy yang menyaksikan di lereng-lereng bukit.


Abdullah bin Rawana tidak dapat menahan diri untuk larut dalam suasana tersebut. Ia nyaris meneriakan tantangan perang pada Quraisy. Namum 'Umar bin Khatab mencegahnya. Sebagai pelampiasnnya 'Umarmenyarakan Abdullah untuk meneriakan kata yang sekarang cukup dikenal oleh masyarakat Islam.

"la illaha illallah wahdah, wanashara abdah, wa'azza jundah, wakhadalal ahzaba wahdah" (Tiada tuhan selain Allah Yang Esa, yang menolong hamba-Nya, memperkuat tentara-Nya dan menghancurkan sendiri musuh yang bersekutu). Abdullah terus mengulang-ulang kalimat tersebut yang diikuti hampir seluruh umat Islam. Kata kata itu terus bergema, menghu-jam hati hati orang Quraisy yang hanya dapat menyaksikan dari jauh.


Usai mengelilingi Ka'bah, Muhammad yang mengendarai kendaraannya, menunju bukit Shafa. Dari sana Rasullullah bergerak ke bukit Marwa, dan kembali ke bukit Shafa lagi hingga tujuh kali perjalanan. Perjalanan yang sekarang disebut sa'i ini diyakini sebagai upaya menapaktilasi perjuangan keluarga Nabi Ibrahim, khususnya siti Hadjar, pada saat memabngun Baitullah ber abat-abat sebelumnya.


Usai perjalanan tersebut, sesuai tradisi orang-orang Arab masi itu, muhammad pun bercukur rambut, kemudian memotong kurban. Esok harinya, Muhammad memasuki Ka'bah dan terus berada di sana sampai tiba salat dhuzur. Sebagaimana di Madinah.Bilal bi Rabah kemudian naik ke atap bangungnan untuk mengumandangan azan.Rasulullah pun menjadi imam shalat berjamaah disana. diantara patung patung yang masih banyak terdapat di sekitar Ka'bah.


Muhammad tinggal di Makkah selama tiga hari. Setelah itu, Ia dan rombongan kembali ke Madinah. Ada dua keuntungan yang diperoleh dalam perjalan kali ini. Ia dan rombongan bukan saja dapat menunaikan ibadah umroh-yang sering disebut pula sebagai Umroh Pengganti (Umratul Qadha), melainkan joga berhasil merebut hati tokoh tokoh penting Quraisy.


Saat Muhammad dalam perjalan menuju madinah itu, Khlid bin Walid mengejarnya dan menyatakan diri masuk Islam. Khalid adalah seorang muda yang menjadi komandan paling cerdik pasukan Quraisy. Kelak ia banya berperan dalam sejumlah ekspedisi militer kalangan Islam.


Setellah Khalid, 'Amr bin Ash serta Ustman anak Talha yang menjdi penjaga Ka'bah, menyusul masuk Islam. Setelah Rasul Wafat, Amr banyak menimbulkan persoalan terutama menyangkut perselisihannya dengan 'Ali bin Abu Thalib.

Umroh ditunaikan.Kota Makkah tinggal sesaat lagi untuk sepenuhnya berada dalam kendali Rasullah.


Dari Kisah kisah Sufistik Haji

Belum Haji Sudah Mabrur

Oleh: Mokh Syaiful Bakri.


Kamis, 12 November 2009

Biografi Sufi


Biografi Sufi

Rabi`ah al-Adawiyah.

Rabi’biah al-Adawiyah (.M 801) adalah salah se.orang sufi yang paling masyhur di Basra,Irak.Ia lahir dalam suatu keluarga sangat miskin.Ketika keduua orangtuanya meninggal. Ia dijual sebagai budak, tetapi kemudian dibebaskan oleh majikannya karena takwa dan Zuhud.

Cinta dan semangat Rabi’ah kepada Allah begitu menggebunya sehingga tak ada ruang dalam hati dan pikirannya untuk pikiran atau perhatian lain. Ia tak kawin, dan dunia tak berarti apa apa baginya, Ia menutup jendela dan kamarnya dimusin semi tanpa melihat bunga bunga diluar, dan hilang dalam renungan pada pencipt yang meliputi segala sesuatu. Kepada Tuhan ia berkata:

Wahai Kekasih hati, aku tak punya sesuatu seperti Engkau,

Maka kasihanilah kini pada pendosa yang dating kepada-Mu

Wahai Harapanku dan Sandaran dan kegembiraanku.

Hati tak dapat mencintai apa pun selain Engkau.

Bagi Rabi’ah, yang penting hanyalah tenggelam dalam Allah, meletakan seluruh harapannya pada Allah, dan kehilangan dirinya dalam pujian kepada-Nya,Salat malam baginya menjadi percakapan manis dan penuh cinta antara dia dan Yang Dicintainya.

Pernah Rabi’ah bertanya kepada Sufyan ats-Tsauri, seorang Sufi di Basra,”Apa definisi Anda tetntang kemurahan hati?” Ia menjawab,”Bagi penghuni dunia ini, kemurahaan hati adalah memberikan miliknya; bagi orang yang hidup di dunia alam Akhirat, kemurahan hati berarti mengurbakan jiwanya,” Rabi’ah sangat tidak setuju seraya mengatakan bahwa ats-Tsauri keliru,

Menurut Rabi’ah, kemurahan hati ialah meyembah Allah semata-mata karena cinta kepada-Nya, dan bukan untuk mendapatkan suatu ganjaran atau maslahat apapun sebagai imbalan.

Dalam sejarah tasawuf, Rabi’ah telah menjadi lagenda yang melambangkan pemujaan penuh pengabdian sepanjang jalan zuhud dan cinta.

Dikutip dari Buku Belajar Mudah Tasawuf

Oleh:Syekh Fadlullah Haeri.

Minggu, 27 September 2009

Dalam Nuansa Lailatul Qadar

Dalam Nuansa Lailatul Qadar

Fatwa
Syekh Abdul Qadir al-Jaelani:
( Kutipan dari karya Syekh Abdul Qadir al-Jaelani dalam kitab Al-Ghunyah Lithalib Thariqil Haqq Fil Akhlaq Wat-Tashawufi wal-Adab al Islammiyah.)
Majalah Sufi Desember 2008 No.08

Firman Allah SWT:” Para malaikat pada turun dan (begitu juga) ar-Ruh (Jibril) di dalam malam itu.”

Jibril turun disertai dengan 70 ribu malaikat, dan bertidak sebagai pemimpinnya. Jibril terus menerus memberi salam kepada merekayang sedang duduk (beribadah), sementara seluruh malaikat yang lain memberi salam kepada mereka yang sedang tidur, Allah sendiri yang terus memberi salam kepada mereka yang bangkit menuju kepada-Nya.

Sebagaimana Salam Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman yang menjadi ahli surge di surga , dengan firman-Nya: Salaamun Qaulanmin Rahiim min Rabbil Rahiim ( Salam yang terucap dari Tuhan Yang Maha Pengasih) Maka, berkenan pula Allah memberikan salam kepada para hamba-Nya yang senangtiasa berbuat kebajikan di dunia, mendapatkan anugrah kebaikan luhur dan kebahagian di Zaman ‘asali.
Yaitu para hamba-Nya yang senangtiasa fana’ atau sirna dari segala makhluk, dan abadi bersama Tuhannya, senanstiasa tentram menuju kepada Allah Ta’ala Yang Maha Benar.

Pada malam Lailatul Qadar itu, tak ada yang tersisa dari suatu tempat melainkan ada malaikat yang sedang sujud di sana, atau berdiri mendoakan hamba-Nya yang mukmin dan mukminat. Kecuali tempat tempat seperti gereja, biara, temapt ibadah majusi, dan tempat tempat berhala, atau sebagian tempat yang menjadi pembuangan kotoran maksiat.Ditempat-tempat malaikat tidak mau bersujud dan berdoa.

Malaikat malikat itu senangtiasa mendoakan kaum muslimin dan mukminat. Sedangkan Jibril as, sama sekali tidak mendoakan kaum mukminin dan mukminat, melainkan hanya menyalami dan bersalaman kepada mereka, Jika Anda sekalian sedang dalam keadan beribadah, maka Jibril meyalami,” Salam kepadamu, semoga diterima dan mendapatkan kebajikan, “Jika anda ditemui sedang bermaksiat, Jibril menyalami,”Salam bagimu, semoga engkau mendapatkan ampunan”, Jika anda ditemui dalam keadaan tidur, Jibril menyalami,”Salam bagimi, semoga engkau mendapt kan Ridha-Nya,”Jika Anda sudah dalam kuburan ( Mati ) Jibril menyalami,” Salam bagimu dengan ruh dan aroma keharuman.Itulah yang difirmankan Allah, min Kulli Amrin Salaam” (dalam segala hal ada salam ).

Ada yang menyebutkan, bahwa para malikat itu hanya menyalami mereka yang taat, sementara tidak pada mereka yang sedang bermaksiat. Di antara ahli maksiat itu adalah mereka yang berbuat kedhaliman, mereka memakan makanan haram, mereka memutus tali sillaturrahim, mereka yang mengadu domba, mereka yang memakan harta anak yatim, mereka itu tidak emdapatkan salam dari malaikat. Lalu manakh bencana yang lebih besar dibandingkan bencana seperti itu.

Pada Hal bulan Ramadhan diawali oleh rahkmat ditengahi oleh ampunan dan di akhiri dengan kebebasan dari neraka. Sementara Anda tidak memiliki bagian dari salam para malaikat itu.? Bukankah itu semua gara gara Anda jauh dari Yang Maha Pengasih.? Dan Anda Juga tergolong para penetang Allah dan mensakralisasi tindakan syetan? Anda berhias denga riasan penempuh jalan neraka? Begitu pula karena Anda jauh dan mengabaikan dari para penempuh jalan surge.?

Anda juga hijab dari Tuhan yang mewakili kekuasaan atas bahaya dan kebajikan? Pada bulan Ramadhan adalah bulan kejernihan, bulan keselarasan bersama Allah, bulan para pendzikir-Nya, bulan orqng orqng sabar dan bulan para Shadiqin. Lantas apabila tidak ada bekas dalam hati anda,dan Anda tidak mencabut akar kemaksiatan dalam hati Anda, menjauhi para pelaku kejahatan dan kemungkaran, lalu pengaruh apa yang bias membekas dalam hati Anda itu,? Apa yang Anda harapkan dari selain dari kebajikan? Apa yang masih Anda sisakan dalam jiwa Anda? Kebahagianmanakah yang bias Anda raih disana.

Ingatlah wahai orang yang sangat kasihan, terhadap apa yang menempel pada diiri Anda. Bankit dari kegelapan yang meninabobokan Anda, Anda alpa. Lihatlah pada yang memberi petunjuk pada Anda, sisa-sisa bulan Anda, dengan tindakan taubat dan kembali.Nikmatilah bulan ini dengan istighfar dan kepatuhan, agar Anda meraih rahmat dan kasih saying Allah. Anda harus membantu dengan segala hal yang mengarah pada sikap negative. Menagislah pada diri sendiri atas dorongan yang menyeret Anda pada cacat-cacat jiwa, kebinasaan dan tragedi.

Betapa banyak orang berpuasa, namum hakikatnya tidak pernah berpuasa selamanya. Banyak orang yang berdiri tegak untuk Ibadah, hakikatnya tak pernah ibadah selamanya. Betapa banyak orang beramal, namum tanpa pahala ketika amal itu usai dilakukan, Amboi, apakah puasa kita terima, ibadah kita terima, atau sebalikinya semua itu ditolak dan dilemparkan ke wajah kita sendiri? Amboi, betapa kita telah menolak ibadah yang seharusnya diterima, dan menghormati ibadah yang seharusnya ditolak?

Sebagaimana sabda Rasullulah SAW,”Betapa orang berpuasa, namum tak lebih dari lapar dahaga, Betapa banyak orang yang tegak beribadah, melainkan hanya kelelahan belaka.

Salam kepadamu, wahai bulan puasa.
Salam kepadamu wahai bulan kebangkitan
Salam kepadamu wahai bulan iman
Salam kepadamu wahai bulan al-Qur’an
Salam kepadmu wahai bulan cahaya cahaya
Salam kepadamu wahai bulan maqhrifah dan ampunan
Salam kepadamu wahai bulan derajat dan keselamatan dari keburukan
Salam kepadamu wahai bulan orang orang yang bertobat, beribadat
Salam kepadamu wahai orang-orang ma’rifat
Salam kepadamu wahai bulan orang yang tekun beribadat
Salam kepadmu bulan yang aman
Engkau telah menahann orang-orang maksiat
Engkau telah bermesraan dengan ahli taqwa
Salam kepada bilik dan cahaya-cahaya yang cemerlang dan mata terjaga,
airmata yang melimpah, mihrab yang terang benderang ungkapan yang suci,
nafas-nafas yang membubung dari kalbu-kalbu yang bergelora.

Tuhan, jadikanlah kami tergolong mereka yang engkau terima ppuasanya, shalatnya, dan engkau ganti keburukan dengan kebajikannya, dan Enkau masukan dengan Rahkmat_mu dalam surge-Mu, dan Engkau tinggikan derajat mereka, wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Sabtu, 26 September 2009

Telaga Sufi di Bulan Suci






Telaga Sufi
Di Bulanan Suci
Dikutip dari majalah Sufi 08 Desember 2000
Oleh: Muhammad Lugman Hakim,MA

Wahai orang orang yang beriman,diwajibkan puasa atas kamu sekalian, sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu,agar kamu sekalian bertaqwa. (al-Qur’-an )
Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadiral-Jaelani dalam kitabnya Al-Ghunayah mengupas, bahwa kata ramadlan itu terdiri dari lima huruf: R-M-DL-AN. Huruf (R) berarti Ridlwanallah (ridha Allah ) huruf (M) berarti Mahabatullah (mencintai Allah),huruf Dlad (DL) berarti Dlamanullah (dalam jaminan Allah), haruf Alif (A) berarti Ulfatullah ( kasih sayang Allah) , dan huruf Nun (N) berarti Nurullah (cahaya Allah).
Karena itulah bulan suci ramadlan disebut sebagi bulan Ridla, bulan cinta,bulan kasih Sayang, bulan Lindungan, bulan cahaya, sekaligus bulan anugrah dan karamah bagi auliya dan orang-orang kebajikan. Disebutkan para ulama sufi, bahwa bulan Ramadhan jika dibandingkan dengan bulan bulan lainnya, ibarat kalbu di dalam dada, ibarat para nabi dengan umat manusia, dan ibarat tanah suci Haram dibanding dengan dengan bumi lainnya.
Hari hari yang penuh dengan dahaga dan lapar,malam-malam penuh keagungan dan anugrah kita arungi bersama sama, agar kita bersembunyi di balik tirai Ilahi dalam puasa yang sungguh2 puasa: puasa hakiki.Sebab, Ramadhan itu sendiri merupakan salah satu nama dari sekian nama Allah.Karenanya, bulan Ramadlan merupakan Bulan Ilahi, dimana Allah sendiri yang membalas pahala pahala mereka yang berpuasa.
Seakan-akan memang ada rahasia agung yang sangat pribadi antara Allah dengan para hamba-Nya. Setidak tidaknya hakikat takwa benar benar dilimpahkan pada hamba-hamba Allah yang berpuasa sebagaimana disebutkan”Haqqa Tuqaatih”, takwa yang hakiki. Sebuah hadist m enyebutkan.”Janganlah kalian semua mengatakan Ramadhan, sebab Ramadhan itu adalah nama Allah Ta’ala”,. Maka Allah sendiri juga menyebutkan dengan kailimat” syahru Ramadhan”, bukan Ramadhan saja. Hal demikian menunjukan betapa penting bulan ini, bahkaan betapa Allah Ta’ala sampai membuat wahana yang amat istimewa dan Khusus terhadap bulan Ramadhan tersebut.
Dalam hadist saih riwayat Imam Muslim, Rasulillah SAW bersabda- dalam Hadist Qudsi :
Allah Azza wa-Jalla berfirman: Setiap amal manusia kembali kepadanya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu hanya untuk-Ku,dan Akulah yang membalasnya sendiri. Puasa itu merupakan tameng, manakala di hari puasa kalian, maka janganlah melakukan hubungan suami istri dan jangan lah berbuat kotor. Maka apabila ada seseorang memakinya, katakanlag:”Aku ini orang yang berpuasa. Dan denim Dzat Yang menguasai Jiwa Muhammad, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu disisi Allah lebih harum dibandingkan misik, di hari kiamat nanti.”
Dalam hadist lain disebut,” Hendaklah kamu berpuasa, Karena puasa itu tidak ada bandingannya” (HR.Nasa’i )
Makna puasa itu sendiri adalah mengekang dan mengakat. Aetinya mengekang segala keinginan yang mendorong kita untuk menyimpang dari perintah dan kehendak Allah, mengekang dari segala keinginan untuk berpaling pada selalin Allah.
Bahwa puasa itu merupakan ibadah yang tiada bandingan, semata juga karena puasa itukan merupakan jiwa penghapusan terhadap hal-hal yang berbau empiris. Sebab Ramadhan adadlah nama Allah, suatu kegembiraan kita karena kita memasuki nama Allah. Sebab itulah puasa yang berarti meninggalkan, sangat berhubungan erat dengan proses hamba hamba Allah dalam meninggal” keakuan, nafsu , dan seluruh sifat tercelanya” agar bisa fana ke hadirat Allah. Sebab dalam kata “ Meninggalkan” itu mengandung arti sebagai bentuk dari ketiadaan dan nagasi, dan karenanya tidak ada bandingannya. Berarti juga tidak bias dibandingkan Allah dengan yang Lainnya, sebagaimana dalam Al-Qur’an, Tiada satu-pun misal bagi-Nya.
Intinya,puasa itu merupakan ibadah yang bias menyempurnakan sipriltualitas para hamba. Bentuk bentuk pengekangan iyu sendiri mengandung pelajaran yang amat mahal nilainya. Setahun dalam 12 bulan, Allah memberi anugrah satu bulan saja, agar hamba hamba-Nya menjadi merdeka. Merdeka dari seluruh ikatan duniawi, dan Fana’ kepada Allah dalam lembah bulan suci ini.
Mereka yang sedang menjalani bulan puasa, hakikatnya menempuh jalan kemerdekaan yang sesungguhnya. Hanya saja ada tipikal manusia berpuasa, sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi ia tidak mampu menahan godaan hawa nafsunya. Ada juga yang mampu menahan dahaga, sekaligus menahan diri Dhahir dan bathinnya dar segala yang di haramkan Alllah.
Puncaknya adalah mereka yang berpuasa, menahan diri dari godaan fisik dan bathin, sekaligus fana’ dalam Allah. Yang terachir inilah disebut sebagai puasa Khawasul Khawas. Puasa dari segala hal selain Allah. Hanya kepada Allah-lah diri hadir, dan tak ada lain kecuali kehadiran Allah dalam jwanya. Dalam tradisi Rasulullah SAW bulan puasa merupakan bulan ubudiyah. Jika siang hari beliau menahan diri dari segala hal selain Allah, maka dimalam hari beliau melakukan Qiyamul Lail, yang kelak disebut tarawih, sebagai upaya bangkit dalam ma’rifatullah.
Setidak-tidaknya ada lima peristiwa besar berkait dengan bulan suci ini:
Pertama, bulan ini disebut bulan Ramadhan yang merupakan salah satu asma’ dari sekian asma’ Allah Ta’ala. Berarti, bulan ini adalah awal mulanya hamba-hamba-Nya memasuki asma’ Allah lewat pancaran cahaya ma’rifatnya, Ma’rifat asma’ itulah awal dari pengenalan hamba-Nya kepada-Nya lalu dilanjutkan dengan ma’rifat Sifat, dan terachir ma’rifat bi-Nuridz-Dzat (ma’rifat dengan cahaya Dzatullah).
Penghayatan terhadap ma’rifat itu tidak akan tercapai manakala hamba-hamba Allah tidak mau mengekang dirinya, keakuannya hasrat-hasrat nafsunya, egonya, dan kepentingan-kepentingannya, melainkan hamba harus puasa dari segala hal, kecuali hanya Allah belaka, sebagai tunjuan dan sekaligus juga wahana penyaksian ( musyahadanya)
Kedua, bulan ini merupakan bulan dimana Kalamullah al-qur’an diturunkan dari Lauhu Mafuds ke langit Dunia secara global. Kalamullah itulah yang merrupakan “ kepastian global” atas sejarah jagat rayaini. Turunnya al-Qur’an secara global, selaras dengan “Kun-nya Allah, dan kelak melimpah secara historis dalam “Fayakuun”. Mengapa al_Qur’an diturunkan di bulam suci Ramadhan, karena Kalamullah itu adalah manifestasi dari sifat-Nya “Al-Kalim”, dimana semaian wahananya haruslah Mawjud pada asma’-Nya, yaitu Ramadhan itu sendiri.
Ketiga: dibulan Ramdhan ini ada Lailatul Qadr. Malam yang melebihi seribu bulan cahaya. Cahaya bulan itu sendiri merupakan pantulan dari matahari ,dan manakala matahari, bulan tak bercahaya, maka terjadi kegelapan yang dahsyat. Dengan kata lain Lailatul Qadr merupakan wahana dimana Cahaya- cahaya Allah itu mawjud, didala jiwa-jiwa hamba-Nya yang beriman.Pendaran cahaya-Nya yang melebihi ribuan cahaya bulan, hanya symbol betepa tak terkirakan Cahayanya itu. Mereka yang mempunyai jiwa yang telah fana’ dalam ”kegelapan malam Fana’ul fana”, adalah jiwa mereka yang mampu menyaksikan dalam musyahadah Cahaya-Nya. Kareba itu kefana’an itu hanya akan termawjud
Manakala hamba itu senangtiasa berdzikir, bertaqarub, bermuqarabah. Dan bartaubah dalan arti hakiki.Sebab Cahaya-cahaya-Nya, hanya bias disongsong oleh Sirrul’ Abdi, sebagai puncak ketakwaan hamba Allah itu sendiri. Sirrul’ Abdi adalah hakikat kehambaan yang final. Wujudnya adalah kesinaraan hamba dalam kebaqa’an-Nya, sehingga sang hamba tak lagu”ada” dan yang ada hanyalah Yang Maha ada dalam Abadi-Nya.
Keempat: di bulan ini para hamba menuai kemerdekaan dan kebebasan yang sesungguhnya. Sebab pintu-pintu surge dibuka.pintu-pintu neraka ditutup, syetan-syetan dibelengu. Disebut merdeka dan bebas, karena para hamba dibebaskan diri dari upaya terikat oleh kepentingan duniawi, kepentingan ukrahwi, bahkan kepentingan dari segala hal selain Allah. Sebab kebasan itu tidak terwujud secara hakiki manakala hamba masih diperbudak oleh selain Allah. Wujudnya adl;ah cahaya hati yang terang benderang sebagai” Rumah Allah” dalam jiwanya sebagi disebutkan dalam Hadist,” Qolbul Mu’mini Baitullah” ( hati orang yang beriman adalah rumah Allah).
Kelima : Munculnya dua kegembiraan: kegembiraan pertama adalah ketika mereka yang berpuasa itu melakukan buka puasa (ifthar), dan kegembiraan pertama bisa disebut sebagai kegembiraan ketika lahiriah, dan kegembiraan kedua bias disebut sebagai kegembiraan bathiniah. Atau yang pertama adalah kegembiraan fana’nya hamba dalan kefitrahaannya (dan karena itu desebut ifthar ), lalu yang kedua adalah fana’ulfana’ dalam ke baqa’an-Nya, ketika menemui Tuhannya. Dua kegimraan inilah yang sangat ditunggu tungu o;eh kegembiraan Allah. Hamba yang telah berfitrah, sekaligus hamba yang telahmenjadi” Cermin Ilahi” dalam liqa’ (bertemu) dengan-Nya.
Mereka ysng telah melakukan tradisi puasa sufistik, senangtiasa akan merasakan puasa selama-selamanya. Sebab di bulan Ramadhan itulah hamba Allah berada dalam khauf dan raja’ ( ketakutan dan harapan), lalu meningkat lagi dalam qabdl dan basth (ketergegaman dalam kuasa Ilahi dan keluasaan dalam rahmat-Nya), bahkan ada yang mencapai haibah dan uns (dalam lembah charisma Ilahi sekaligus juga dalam pelukan kemesraan yang tiada tara), Maka puasa, sesungguhnya adalah” perjuangan jiwa” yang disebut sebagai Jihadul akbar ( perjuangan besar).

Rabu, 09 September 2009

Perjalanan Qalbu






Perjalanan Qalbu

“Dilubuk qalbu ada neraka.

Disana juga berada sorga.

Bahagia mereka yang mengenal-Nya.

Dengan alat yang dimiliki-Nya.

Si tuli gandrung menolak bunyi.

Si buta menolak rupa yang asli.

Meskipun music rohani berbunyi.

Istana kaca Ratu Bilqis masih abadi.

Cinta sejati tidak dapat dibeli.

Tidak ternilai dengan upeti.

Kecuali atas izin ilahi.

Usaha menghidupkan api rindu.

Ranting mati akan bertunas kembali

Membuahkan cahaya energi abadi”

Oleh : Ki Empu Penitis